Forum Lingkar Pena (FLP) Adalah Sebuah Wadah Komunitas Para Penulis. Di Sini Para Penulis Berkumpul, Saling Berbagi dan Menebar Semangat.

MENGAPA HARUS BELAJAR PUBLIC SPEAKING

 

MENGAPA HARUS BELAJAR PUBLIC SPEAKING?

(RAHMAN)




 

Kamu tahu nggak kalo salah satu hal yang paling ditakuti dalam kehidupan ini adalah apa hayo? Bisa nebak nggak? Nggak punya uang atau dapat nilai jelek? Ternyata bukan itu loh! Ternyata, oh, ternyata bicara di depan banyak oranglah yang dianggap paling menakutkan. Gimana dengan kamu? Kamu ngerasa nggak?

Yoi, bicara di depan publik bagi sebagian orang emang nggak enak. Rasanya tuh bikin bulu kuduk berdiri kayak nonton film horor. Menegangkan dan menakutkan. Weleh-weleh, sampai segitunya yah. Tapi emang benar sih, kalo udah tampil di depan seakan-akan seluruh mata hadirin lagi menghakimi kita. Kayak terdakwa di meja hijau gitu.

So, mau nggak mau. Suka nggak suka kamu bakalan kena giliran tampil di depan. Entah itu membacakan puisi, hasil kerja kelompok, nyanyi, menari, pidato untuk pengambilan nilai Bahasa Indonesia, atau malahan maju ke depan karena di hukum guru.

Sebelum ngulik lebih jauh tentang public speaking, yuk, kita ngobrol dulu tentang komunikasi secara umum. Yang namanya komunikasi akan berlangsung kalo ada proses membuat pesan yang setara antar dua orang atau lebih. Artinya, kalo kamu ingin berkomunikasi dengan baik kamu kudu nyampein pesannya dengan bahasa dan cara-cara yang sesuai dengan tingkat pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang budaya pendengar kita.

Supaya komunikasi kamu berjalan lancar, kamu harus tahu nih lima kaidah komunikasi efektif yang disingkat menjadi REACH (Respect, Empathy,  Audible, Clarity, dan Humble) yang artinya merengkuh atau meraih. Kenapa disebut demikian? Karena komunikasi pada dasarnya adalah upaya bagaimana meraih perhatian, cinta, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif orang lain.

Pertama, Respect artinya sikap hormat dan menghargai saat berkomunikasi dengan orang lain, termasuk berbicara di depan umum. Karena pada dasarnya semua orang pasti ingin dihargai dan dianggap penting. Kalo muka kamu judes dan omongan suka nyelekit gak bakalan ada deh yang mau dengerin omongan kamu.

Kedua, Empathy. Yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Kita tuh jadinya pribadi yang siap mendengar dan siap menerima masukan atau umpan balik apa pun dengan sikap positif.

Ketiga, Audible. Yaitu dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Biasanya nih pakai media audio visual supaya lebih mudah untuk memahami pesan yang ingin disampaikan.

Keempat, Clarity. Yaitu kejelasan dari pesan yang disampaikan sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran yang berlainan. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya clarity dalam public speaking, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan dalam public speakingnya.

Kelima, Humble. Arrtinya sikap rendah hati. Kita tuh jangan sampe deh ngerasa sombong karena merasa udah ahli atau menganggap diri kamu penting ketika berbicara di depan publik. Justru dengan kerendahan hatilah, kamu dapat nangkap perhatian dan respon positif dari pendengar.

Perlu kamu pahami juga kalo kapasitas penerimaan indra manusia, yaitu pendengaran 11% dan 75% visual. Untuk mendukung indra visual lewat mata maka kamu perlu bantuan media (podcast, video, televisi, laptop,dan lainnya). Media ini hanya sarana loh ya, bukan suatu tujuan, karena dalam  berkomunikasi tetep aja harus menggunakan kata dan frasa. Seingkali yang mampu menghipnotis pendengar itu bukan apa yang dikatakan oleh kamu. Melainkan apa yang dikatakan lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang mampu memengaruhi pendengarnya.

Kalo menurut ilmu komunikasi, isi pembicaraan sedikitnya memiliki satu dari tiga tujuan berikut, yaitu memberi infomasi, menghibur, dan membujuk (meyakinkan) pendengar. Maksudnya gini ya, kalo kita ngasih informasi berarti ada hasil yang akan didapat pendengar. Entah itu pengetahuan baru, informasi terkini, atau sesuatu yang berguna bagi pendengar. Kalau hiburan biasanya bersifat nyenengin kayak stand up comedy atau ngelawak gitu. Sedangkan membujuk biasanya pengen memengaruhi atau meyakinkan pendengar agar ada perubahan pola pikir atau perubahan sikap setelah mendengar apa yang kamu omongin ke mereka.

Dalam ilmu komunikasi sendiri, kalo kita ngomong di depan umum alias public speaking maka akan ada kaitannya dengan keterampilan atau keahlian dalam melakukan presentasi. Makanya kita kudu rajin berlatih untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam public speaking  khususnya presentasi.

Kuy, kita cari tau dulu apa itu presentasi ya. Presentasi itu komunikasi lisan yang disampaikan secara formal. Beda ya sama kamu ngobrol heboh atau ngegibah sama teman se geng. Pernah ngerasa nggak kalo kamu betah berlama-lama ngobrol ampe berbusa-busa tapi ketika diminta presentasi dua atau tiga menit aja mulut kamu langsung bungkam seribu bahasa. Diminta bikin pertanyaan, menanggapi omongan teman yang lagi presentasi, atau ngeluarin pendapat berdasarkan hal yang kamu yakini bikin kamu mules-mules dan bibir kamu terkunci rapat saking kagoknya bingung mau ngomong apa.

Du.. du.. du.. sengsara amat yak kalo kamu belum ngilmu tentang public speaking. Yah, minimal tau banyaklah tentang serba-serbi presentasi. Makanya dijamin nggak rugi deh kamu belajar ilmu public speaking ini. Dijamin kamu bakalan dapet ilmu sejibun kalo mampu nuntasin baca buku ini ampe abis. Jangan lupa juga dipraktekin ya, Sob. Lah ngapain juga selusin baca buku tentang public speaking kalo malas dipraktekin. Ya, percuma dong ah.

Ok, kita lanjut lagi yah. Yang namnya presentasi entuh bentuknya macam-macam. Presentasi bisa berupa laporan tugas pengamatan atau kunjungan, penjelasan dari proyek atau penugasan yang udah kamu kerjain di rumah, laporan wawancara, laporan hasil rapat OSIS atau hasil rapat ekskul, seminar mini, bedah buku, bereksperimen, atau tutorial membuat sesuatu.

Menurut Macnamara (1998), presentasi itu ciri khasnya ngegunain sarana pendukung. Sebut aja kayak media audio visual dan berbagai teknik penyampaian pesan seperti demonstrasi, drama, kuis, dan lainnya sehingga presentasi kamu lebih menarik dan mampu mempengaruhi gitu loh.

Keterbatasan softskill bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak mampu terampil berbiacara di depan orang banyak. Ketidakpercayaan diri itu dipengaruhi oleh sejauh mana seseorang mempersiapkan dirinya untuk tampil di depan publik, baik dari segi topik pembicaraan, fisik, maupun mental.

Permasalahan lain yang sering dialami yaitu kurangnya penguasaan materi yang akan disampaikan. Seorang pembicara selalu berharap mendapatkan banyak dukungan terhadap pendapat dan materi yang akan ia sampaikan. Akan tetapi, sebagian besar orang cenderung merasa rendah diri terhadap permasalahan ini. Khususnya ketika ia membandingkan dirinya dengan tingkat status, nilai, penampilan, penghasilan, atau kecerdasan dari calon pendengar yang akan dihadapinya. Secara langsung hal ini akan menyebabkan stress tersendiri. Maka dari itu, dibutuhkanlah sebuah kekuatan dari dalam diri individu untuk selalu berpikir positif. Potensi-potensi yang ada pada diri mereka hanya butuh ditampilkan.

Nah supaya presentasi kamu sukses dan gak bakalan malu-maluin kamu kudu nyiapin dengan matang. Ibarat kayak kita nyiapin proyek selama berminggu-minggu. Eh, ketika tampil nyampein laporannya paling cuma beberapa menit doang. Uncle Abraham  Lincoln aja pernah ngomong gini,  “Jika saya memiliki delapan jam untuk ngerobohin sebatang pohon.  Maka saya akan ngabisin enam jam untuk mengasah kapak”. Tuh, dahsyat bangetkan yang namanya persiapan itu.

Kalo kamu udah nyiapin dengan cermat dan penuh perhitungan, kamu bakalan terhindar dari yang namanya demam panggung. Kalo udah demam panggung, sehebat apapun hafalan kamu, sefasih apapun kamu bicara saat latihan, ya bakalan ancur dah penampilan kamu. Gak ada manis-manisnya diliat. Sepet, pahit, dan bikin ilfill para pendengar. Jangan harap bakalan dikasih tepuk tangan meriah atau pujian melimpah ruah kalo kamu emang belum siap tampil untuk ngomong.

Kamu tahu Antoni Dio Martin, Merry Riana, atau  Najwa Shihab? Siapa sih yang nggak kenal ama mereka. Yes, para public speaker alias pembicara, trainer, motivator, fluencer,  inspirator atau apapun namanya banyak banget bertebaran. Hal ini menandakan kalo skill public speaking itu sangat bermanfaat. Tengok aja ke instagram atau youtube banyak bangetkan video para pembicara yang makin hari makin banyak diminati. Hal ini menandakan kalo kamu sukses jadi pembicara di masa depan hidupmu bakalan mudah deh.

Makanya jangan buru-buru nganggap kalo bicara di depan umum itu sulit dan menakutkan. Gampang kok! Asal tau caranya. Yang penting diakrabin dulu tuh yang namanya seni berbicara di depan umum. Emang bener kalo ngomong di depan orang banyak itu njelimet. Namun, hal ini jangan menjadi batu sandungan buatmu untuk terus belajar.

Nah, kemampuan berbicara di depan umum ini bisa dibilang adalah seni. Yang namanya seni berarti kamu harus ngelakuinnya dengan penuh perasaan. Harus terus diasah tuh kemampuan bicara kamu supaya makin terampil. Bukan sekadar nyomot materi dari buku trus disulam dengan kata-kata pemikat hati. Resapi setiap lekuk kata yang akan kamu sampaikan. Nah, kalo sudah begitu kamu siap tampil deh. Rasa takut yang nyangkut di dalam sukma gak bakalan hadir deh kalo kamu udah percaya diri ngomong di depan umum.

Jangan terlalu mikirin pendapat orang lain. Because we can’t make everybody happy. Karena saat kamu berhadapan dengan sekumpulan orang, entah itu teman-teman kamu atau orang lain, kamu akan ngadepin cara pikir orang yang berbeda-beda.Tidak semua yang kamu sampein bakalan disetujui oleh seluruh pendengar. Kamu jangan terlalu mikirin itu deh ya. Fokus pada apa yang kamu mau bagi dan inspirasikan ke pendengar dari lubuk hatimu yang paling tulus. So, just do it and keep on going! Maju terus pantang mundur. Maju untuk selalu belajar dan nambah amunisi kamu dalam mencari ilmu tentang teknik bicara di depan umum. Buang jauh-jauh rasa malu dan minder kalo kamu mau berhasil. Tetap semangat walau badai menghadang.

Share:

Gunakan APD Untuk Sterilkan Diri di Bulan Suci


 Gunakan APD Untuk Sterilkan Diri di Bulan Suci 

(Aulia Rahim)





Ketika menyambut bulan Ramadhan pun kita diminta untuk mensterilkan diri agar bisa memasuki bulan yang paling steril diantara bulan-bulan yang lainnya. Ramadhan adalah bulan yang paling steril sebab kita mengenalnya sebagai bulan nan suci. Suci yang menandakan bersih, terbebas dari kotoran. Jika dilihat dari definisi steril, steril adalah kondisi bersih dari kuman atau mikroorganisme. Bukankah itu juga berarti suci? 


Dari hal itu pula, kita mengatakan bahwa Ramadhan memang benar adalah bulan nan steril. Kita pun sebagai umat Islam harus memasukinya menggunakan alat pelindung diri agar semua kegiatan yang dilakukan di bulan steril ini akan tetap steril dan terjaga hingga kelak berbuah kemenangan. 

Jika sediaan steril yang hendak diolah itu adalah amal ibadah yang dilakukan maka alat pelindung diri menjadi kunci utama sebelum membuat sediaan steril (amal ibadah). Laboratorium sterilnya adalah bulan Ramadhan dan praktikan yang bertindak adalah kita sebagai umat Islam. 

Diawali dengan mencuci tangan, ini berarti kita diminta untuk membersihkan diri dalam artian lahir dan batin. Secara lahiriyah biasanya kita lakukan dengan cara berwudhu. Secara batiniyah kita lakukan dengan selalu mengiringi dengan hati dengan hal-hal yang terpuji dan membuang jauh-jauh hal-hal yang tercela. Bisa pula kita maknai, cuci tangan di sini, selama bulan Ramadhan kita harus bisa menjaga wudhu, tidak hanya berwudhu tatkala hendak melaksanakan sholat. Ketika batal, maka kita berwudhu. Batal lagi, berwudhu lagi, sehingga wudhu yang ada pada diri ini tetap terjaga. 

Penutup kepala, APD yang pertama kita pakai. Kita ibaratkan bahwa kita jauhi pikiran-pikiran yang kotor ataupun jahat yang selalu bersemayam di otak kita. Pikiran yang membuat kita, ragu-ragu. Pikiran yang membuat kita tidak mau bergerak untuk melakukan amal kebaikan dan ibadah. 

Kaca mata, penanda bahwa kita harus bisa menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik. Mata ini terlalu sering melihat yang bukan untuk dilihat, dan mata ini pula yang khilaf memberikan informasi ke otak sehingga diolah menjadi sebuah perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam. Kita gunakan mata untuk sering melihat ayat-ayat Al-Qur’an dan untuk melihat kebaikan-kebaikan. Masker, penanda bahwa kita harus bisa menjaga mulut dari berbicara hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik diam jikalau tidak ada manfaatnya atau bahkan akan berdampak buruk. Kita gunakan mulut hanya untuk berbicara yang baik-baik ataupun diam. Dikala ini alangkah mulianya jika kita bisa membaca Al Qur’an menggunakan mulut yang diberikan sebagai tanda syukur yang tak terhingga. 

Sarung tangan, berarti kita menjaga tangan dari berbuat kerusakan di bumi-Nya. Tangan yang kadang kala tak terkontrol berbuat sesukanya. Kini, saatnya kita gunakan untuk kebajikan dan amal ibadah. Sepatu boot, kaki ini terlalu sering melangkah ke tempat-tempat yang tidak baik. Sekarang, saatnya digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat sujud untuk melaksanakan sholat wajib atau rangkaian sholat sunnah yang ada di bulan Ramadhan. 


Gown, pakaian yang digunakan untuk melindungi diri saat melakukan proses steril. Di bulan Ramadhan sebaik-baik pakaian adalah takwa. Sebab, ketakwaan itu pulalah yang akan menjadi buah dari perjuangan selama satu bulan dididik dan dilatih untuk menjadi pribadi yang mulia.

Share:

Sholat Seperti Berbuka Puasa

 


Sholat Seperti Berbuka Puasa 

( Aulia Rahim)



     Pernahkah kita melihat orang yang berbuka puasa? Bukan hanya pernah tapi kita sendiri yang mengalaminya. Jika kita lihat sesaat orang yang berbuka puasa, dia akan menyiapkan segala macam hal sebelum berbuka, dirinya pun sudah duduk manis menunggu adzan Maghrib berkumandang. Bahkan, sebuah candaan ditujukan kepada masyarakat Indonesia yakni waktu yang paling disiplin bagi warga Indonesia adalah waktu saat berbuka puasa sebab sebelum berbuka puasa dia sudah menunggu di depan makanan dan minuman yang siap untuk disantap. Mengapa itu hanya terjadi saat berbuka puasa? 

    Mengapa juga tidak diterapkan ketika hendak sholat fardhu? Kita menunggu adzan berkumandang, duduk manis di atas sajadah siap untuk mendirikan sholat. Sebelum adzan berkumandang, kita sudah mengambil air wudhu untuk bersuci kemudian berpakaian rapi dan mengelar sajadah sambal berzikir pelan menjelang adzan berkumandang. Bukankah itu seperti yang kita lakukan ketika hendak berbuka puasa

    Realitasnya, masih banyak dari kita yang susah atau bahkan tidak pernah menunggu waktu sholat. Saat adzan berkumandang dia masih sibuk dengan aktivitas duniawi. Jangankan untuk mengakhiri, menghentikan sejenak untuk istirahat dan dilanjutkan untuk sholat pun dia tidak melakukannya. Ada apa dengan diri ini? 

    Bersiap-siap sebelum waktunya itulah inti dari berbuka puasa selama ini. Tapi, sangat jarang yang melakukannya juga pada sholat. Padahal, begitu besar pahala yang menanti bagi orang yang mau menunggu sholat


    Apakah karena berbuka puasa adalah sebuah kebutuhan sehingga kita mau menunggu dan bersiap-siap sebelum waktunya tiba? Bukankah sholat juga adalah kebutuhan? Sehingga wajar jika kita pun bisa menerapkan apa yang kita terapkan saat menjelang berbuka puasa. 

    Ataukah selama ini kita belum menyadari bahwa sholat itu adalah kebutuhan? Kita maknai sholat adalah kewajiban sehingga terkadang harus dlkerjakan dengan sebuah keterpaksaan. 

    Jika itu kebutuhan maka dengan senang hati kita akan melakukannya. Sebaliknya, jika itu kewajiban maka akan ada rasa keterpaksaan untuk melakukannya. 

    Jadikanlah sholat seperti berbuka puasa. Tatkala kita bisa menjaga waktu untuk sholat maka kelak sholat pun akan menjaga waktu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat


Share:

Kepo atau Peduli?

 

Kepo atau Peduli?

(Raida Fitriani)




 

“Eh, kuliah kamu masih lama ya? Bukannya dulu target cuma 3 tahun harus lulus?”

“Kok kamu masih nganggur sih? Temen-temen lain udah pada jadi orang kantoran loh,”

“Umur kamu udah segini, masih betah aja sendiri. Yang lain udah pada punya anak.”

 

Sering ga’ sih kita dapat todongan pertanyaan gitu, entah dari kerabat, tetangga, atau bahkan teman kita sendiri. Atau, ternyata kita juga begitu sama orang lain? Niatnya sih mau peduli, eh kok lama-lama kepo ya? Harusnya Cuma bagian ini yang ditanya dan dibahas, malah melebar ke sana ke mari. Jadi, itu kepo atau peduli? Antara mereka kepo alias suka ngurusin dan komentarin hidup orang, atau sebenarnya peduli? Beda loh definisinya.

 

Dilansir dari Google, Kepo salah satu singkatan gaul yang merupakan kepanjangan dari Knowing Every Partucular Object. Biasanya kata ini ditujukan pada seseorang yang serba ingin tahu. Sedangkan peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.

 

Jadi, bertanya tentang kesulitannya terhadap sesuatu, kemudian mencari titik permasalahan dan ikut memikirkan solusi, itu namanya peduli. Karena kita tidak tega jika orang terdekat kita selalu terpuruk dan jatuh tanpa ada tangan yang terulur padanya. Kita bertanya bukan untuk ikut campur dalam hidupnya, cukup fokus pada intinya saja, tanpa melebar ke hal lain yang mungkin saja mereka tidak merasa perlu untuk berbagi cerita.

 

Sedangkan kepo, sebenarnya hanya sebuah cara untuk memuaskan rasa ingin tahu, kemudian tergelitik untuk ikut mengomentari padahal sebenarnya itu tidak ada urusan dan hubungannya sama sekali dengan dirinya. Kadang hasil kepo-nya dijadikan bahan obrolan pada orang lain, untuk ditertawakan, untuk dikomentari dan tidak lantas berakhir menjadi solusi. Hanya kepo, tapi tidak peduli. Suka ikut campur, tanpa tahu letak permasalahannya. Mencoba menggali, agar bisa melebar kemana-mana dan menemukan sumber cerita baru.

 

Pada akhirnya, menjadi orang yang terlalu kepo bisa membuat mental menjadi tidak sehat. Rasa penasaran akan hidup orang lain membuatnya terbuai, sampai lupa untuk lebih memperhatikan hidupnya sendiri. Seakan hidup orang lain lebih menarik untuk diikuti, dicari tahu, dan dikomentari. Tipe orang kepo seperti ini bisa menjadi toxic bagi lingkungannya. Dia tidak lagi memiliki kepekaan terhadap hubungannya dengan orang sekitar, karena rasa ingin tahu-nya jauh lebih membuatnya puas dan bahagia.

 

Tapi peduli dan empati memiliki ruang lingkup yang tertata, ekspresi dan penyusunan katanya lebih emosional, membuat kita akhirnya mau terbuka dan berbagi masalah. Mereka tidak akan bertanya melebihi batas dari apa yang seharusnya mereka tahu. Mereka tidak asal berkomentar, hanya memberi tanggapan yang lebih objektif. Tidak melebih-lebihkan. Kalaupun belum ada solusi, setidaknya mereka menjadi pendengar yang baik. Memberikan ruang bagi kita untuk melepaskan semuanya, tanpa disela atau dijeda.

 

Jadi, sebelum kita ingin masuk dalam permasalahan orang lain, bersikap seolah kita adalah “malaikat” lebih baik perjelas dulu, sebenarnya kita hanya kepo, atau memang peduli?

 

 

Share:

Kamu Bener, Tapi Ga Gitu Caranya!

 


 Kamu Bener, Tapi Ga Gitu Caranya!


(Raida Fitriani)





Ada ga’ sih temen atau orang di sekitar kamu yang kalo ngomong tuh “jujur” banget. Pokoknya yang dia bilang itu bukan basa-basi, fakta dan nyata. Seneng ga’ sih kalo kita bisa ketemu orang begini?

Dalam hubungan antar manusia, ada sikap dan reaksi yang sebenarnya harus diperhatikan dalam interaksi sosial. Saat kita berbaur dengan orang lainnya, ada kalanya kita menahan diri untuk tidak menjadi diri kita sendiri, saat seperti sedang sendirian. Paham ga? Dalam masyarakat, kita akan bertemu dengan karakter yang heterogen, jadi kita ga’ bisa seenaknya bersikap ala kita. Kok gitu? Ya iya, kita harus bisa melihat lingkungan dan orang macam apa yang sedang berinteraksi dengan kita.

Misal, kita orangnya ceplas-ceplos, kadang suka pake kata yang sebenarnya buat orang lain tuh, risih, ga’ nyaman. Nah, saat kita lagi berbaur, adaptasikan diri kita biar ga kebablasan. Pilih kata-kata yang lebih enak didengar dan mudah dicerna sama mereka. Kembali ke soal “jujur” tadi ya, kita orangnya blak-blakan, ga’ suka nyindir tapi langsung tembak. Alasannya apa? Ya karena kita emang ga’ mau ngomongin orang di belakang, ngapain? Langsung todong aja, biar cepat kelar masalahnya. Iya sih, cepat kelar, tapi yakin ga’ bakalan ada buntutnya?

“Aku ngomong bener, itu fakta. Kamunya aja baperan. Terima kenyataan dong ,”

Nah lo, pernah dapat kalimat itu ga’? Gimana perasaan kamu? Sakit? Nyesek? Atau justru lega, karna jarang lo ada orang yang biarpun omongannya nyelekit, tapi langsung bikin khilaf kita ambyar. Kalo kamu tipe orang terakhir, bersyukurlah karena Tuhan kasih kamu kelapangan hati yang luas. Tapi tunggu, jangan lantas bilang kalo tipe lainnya itu lemah, kurang iman, pikirannya dangkal, dan sebagainya. Kamu tidak bisa menghakimi hati dan perasaan orang lain. Kamu mungkin kuat, bisa langsung menerima. Tapi proses penerimaan ke hati seseorang itu beda-beda. Ga’ bisa kamu samain durasinya.

Fir’aun aja, yang kafir dan ngaku sebagai Tuhan, ketika Nabi Musa as dan Nabi Harun as diutus sama Allah, mereka dikasih perintah apa? Kalo ngomong sama Fir’aun itu lemah lembut ya, kasih pencerahan dulu. Jangan langsung ditunjuk sebagai seorang pendosa, terus dicaci-maki dan disumpahin dapat azab. Supaya apa? Kali aja hatinya Fir’aun masih ada celah buat dapat hidayah. Nah kita, mau sejahat apapun orang lain, ga’ bisa bikin kita punya hak untuk langsung menjatuhkannya. Iya, dia salah. Iya, tindakannya buruk. Iya, orangnya bikin kesal. Tapi mereka juga berhak untuk dapat perlakuan dan kata-kata yang baik dari kita. Iya bener, obat itu pahit, tapi bikin sembuh. Tapi ada juga kan obat yang manis, yang juga bikin kita sembuh, walaupun efeknya lebih lambat.

Terus, kita kudu ngapain dong? Bohong? Apa nge-gombal dulu? Ya ga’ lah, kalo kita mau nunjukin kesalahan orang, atau teman, pake cara yang lebih baik diantara yang terbaik. Pastikan yang bakal kita omongin ga’ menyinggung perasaannya, atau justru nyakitin. Kita dikasih otak sama akal, tentu salah satunya buat itu, kan? Kecuali kalo kita udah ga’ punya hati sama perasaan. Kalo dia ga’ mudeng? Ya coba aja lagi, ibarat obat, ada dosisnya. kalo udah parah banget, baru kita bisa mulai mikir untuk pakai cara yang lebih ekstrem. Dan itu adalah pilihan bener-bener pilihan terakhir.

Karna Tuhan tidak menciptakan manusia yang sama dengan lainnya. Untuk apa? Biar kita saling belajar, mengenal dan memahami. Agar kita bisa menjadi obat, dan diobati oleh yang lainnya. Jangan jadi manusia yang egois. Kamu emang bener, tapi kalo pada akhirnya nyakitin hati orang, apa yang kamu dapat? Iya, kamu puas, dan mungkin juga ga’ ada beban. Tapi ending-nya? Dibenci iya, ditinggalin juga iya. Tanpa kamu sadari, kamu udah sendirian.

Share:

Hidup Minimalis

 

Hidup Minimalis

[Rindang Yuliani]

 






Akhir-akhir ini aku banyak mengonsumsi konten digital yang berkaitan dengan hidup minimalis. Aku langsung merasa klik karena sebagian besar prinsip hidupku cocok dengan minimalisme ini. Namun di sisi lain aku juga punya habit yang bertentangan dengan prinsip hidup minimalis.

 

Minimalisme sendiri adalah paham menjalani kehidupan dengan sedikit barang. Bahkan, makna minimalisme bisa menjadi lebih luas yaitu hidup dengan hanya fokus pada sedikit hal baik barang atau pikiran.

 

Persamaan makna minimalis terdapat pada kata sederhana. Ya, minimalis bukan tentang hidup berkekurangan tapi hidup dengan sedikit hal tapi merasa cukup. Itulah kesederhanaan. Jika hanya ingin mengikuti hawa nafsu, kita tidak akan pernah mungkin merasa cukup.

 

Lawan makna kata minimalis adalah konsumtif. Gaya hidup ini mempunyai ciri selalu membeli dan mengonsumsi banyak barang atau informasi sehingga membuat hidup tidak optimal. Contoh seperti gawai yang isi memorinya hampir penuh, sehingga performa kecepatannya menjadi menurun.

 

Sudah aku singgung di atas bahwa aku juga memiliki habit yang tidak minimalis. Salah satunya adalah overthinking. Ya, ada masanya dulu aku memikirkan segala macam hal. Selain itu, ada juga pikiran yang selalu muncul di kepalaku padahal aku sendiri tahu bahwa hal tersebut sama sekali tidak bisa kukendalikan. Lalu mengapa aku memikirkannya?

 

Untuk barnag-barang, aku sebenarnya bukan pembeli yang konsumtif. Tapi aku adalah tipe orang yang sulit membuat braang-barang, padahal barang tersebut secara fungsi sudah tidak berguna lagi. Terlebih jika barang tersebut bernilai sentimental. Duh, barang tersebut pasti akan memenuhi lemariku selama bertahun-tahun. Padahal, itu hanya akan menyita waktu dan energiku untuk memikirkan dan merawatnya.

 

Untuk produk fashion, seperti baju, tas, atau sepatu untunglah aku tidak punya masalah dengan mereka. Aku bisa mengendalikan keinginan untuk memiliki terlalu banyak, jumlah yang kumiliki sedikit tapi cukup. Selain itu, aku menerapkan sistem masuk satu, keluar satu agar jumlah barang yang kumiliki tetap dan tidak membuat rumah penuh. Percaya atau tidak, punya lebih sedikit barang, akan membuat kita lebih bahagia.

 

Begitulah sekilas pemikiranku tentang minimalisme. Bagaimana pengalamanmu dalam menjalani hidup, Teman? Apakah selama ini lebih cenderung minimalis atau konsumtif? []

Share:

Apa yang bisa kita Lakukan untuk Membantu Palestina?

 


Apa yang bisa kita Lakukan untuk Membantu Palestina?

[Rindang Yuliani]

 








Akhir-akhir ini berita tentang Palestina mencuat lagi setelah serangan Israel ke wilayah Palestina pada bulan Ramadan 1442 H. Entah apa yang mereka pikirkan sampai tega merusak khusyuknya peribadatan umat muslim. Bahkan suasana Idul Fitri pun para muslim di sana dalam keadaan mencekam dan tertekan.

 

Yang lebih menyedihkan adalah korban dari kalangan wanita dan anak-anak semakin banyak. Mereka adalah masyarakat awam yang seharusnya mendapat perlindungan bahkan di saat perang. Sedih sekali rasanya mengingat pertikaian tak berujung yang membuat korban berjatuhan dari pihak tak berdosa ini.

 

Selain geram, kita juga bisa membantu Palestina dengan hal-hal yang kita bisa. Berikut adalah beberapa rekomendasi hal yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama muslim yang tertindas di sana.

 

1.     Berdoa

Ya, doa adalah bantuan tak terlihat yang bermakna besar. Jangan anggap sepele doa. Semakin banyak yang mendoakan agar keadaan di sana menjadi aman dan kondusif, semakin besar pula kesempatan hal tersebut akan terwujud.

 

2.    Menyebarkan Fakta Konflik Israel dan Palestina

Zaman sekarang, media sosial memiliki kekuatan yang besar. Apalagi jika kamu punya banyak follower. Isilah media sosialmu dengan konten fakta-fakta tentang konflik Israel dan Palestina agar mata dunia semakin terbuka dan kedamaian akan segera terwujud.

 

Ingat ya, hanya sebarkan fakta yang didapat dari sumber terpercaya, bukan hoax sembarangan. Jangan lupa gunakan hastag yang sesuai agar jangkauan postingan kita semakin banyak yang membaca.

 

3.    Berdonasi

Ada banyak keran donasi yang terbuka untuk membantu Palestina. Kita bisa mengisinya lewat manapun, insyaallah sedikit dana yang kita berikan akan sangat bermanfaat bagi mereka. Uang tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan mereka. Juga untuk perbaikan atau pembangunan Kembali fasilitas umum yang terus rusak karena kena senjata Israel.

 

Nah, apalagi yang bisa kita lakukan? Silakan isi saranmu pada kolom komentar di bawah. Jika tidak bisa melakukan hal yang besar, mari kita mulai dengan 3 hal kecil di atas terlebih dahulu. Semoga kedamaian akan segera terbit di negeri Palestina. Amin. []

Share:

Most Recent

3/recent/post-list

Popular Posts

Labels

Recent Posts

Kata Kata Bijak

  • Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
  • Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
  • Pramoedya Ananta Toer

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.